Selamat Datang di zona anti korupsi, Bila ada Temuan Tindak Pidana Korupsi dan Pidana Umum Hubungi : contact person 085720000524

Rabu, 22 November 2017

Suksesnya dalam Acara kegiatan EXPOSE SEKOLAH MODEL, ada Sosok jiwa Pemuda segudang Pemikiran prestasi Imajinasi selalu Tampil dibelakang Layar, itulah ASEP IKHWAN.


Saber Sukabumi,.

Selasa tanggal 21 November 2017 di Gedung Sekolah Perguruan Yasti Cisaat Kabupaten Sukabumi. Telah di selenggarakan Kegiatan Expose Sekolah Model yang diikuti oleh kurang lebih 50 peserta dari berbagai sekolah Tingkat SD/SMP/SMA/SMK/MA sederajat, baik sekolah Negeri maupun sekolah Swasta hadir dalam kegiatan ini. dan Turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi beserta jajaran nya.

Salah satunya adalah dengan diadakannya pelaksanaan ‘Lomba Cerdas Cermat PPKn, Lomba Pembacaan Teks Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945, Lomba dari kebolehan POLCIL cara berbaris yang baik dan Stand pameran dari seluruh sekolah yang melombakan produk kratifitas unggulan nya. Beragam cara dapat dilakukan oleh pengelenggara pendidikan yang harus ditanamkan semenjak dini, terutama Sekolah  dan Hal itu dilakukan juga oleh Perguruan Yasti, Cisaat, Kabupaten Sukabumi.
 
Disela-sela dalam kegiatan Expose Sekolah Model ini di selenggarakan, awak media mewawancarai Didin Jamaludin, selaku Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran PPKn di Yayasan Perguruan Yasti cisaat, mengemukakan "Mengenai untuk tujuan dari kegiatan ini agar menjadi media silaturrahmi bagi para Guru di Kabupaten Sukabumi.“Harapan paling utama adalah, mereka bukan hanya ketika ikut lomba saja. “Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini yang pasti adalah salah satunya menyatukan para guru di seluruh kabupaten Sukabumi khususnya, Jadi kegiatan silaturahmi ini didukung penuh oleh Perguruan Yasti Cisaat.” jelasnya.
 
Didin Jamaludin juga menambahkan harapan kedepannya,"Agar kegiatan ini terus berlanjut sebagai agenda rutin di Kabupaten sukabumi, khususnya terutama Sekolah di Perguruan Yasti cisaat, maupun
kegiatan ini berkontinyu berkelanjutan. “Ini juga dapat dijadikan program unggulan setiap satu tahun sekali dan dapat bergilir setiap sekolah bisa menjadi tuan rumah dalam kegiatan ini. "Artinya, pelajar harus memahami nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, Bhineka tunggal Ika dan nilai nilai NKRI yang pada akhirnya nanti Siswa-siswi pelajar memiliki rasa Nasionalisme, melahirkan generasi bangsa, berwawasan lingkungan social berprestasi dan berkarakter untuk menyongsong Masa depan yang Lebih baik penuh dengan tanggung jawab sejak dini, "Untuk sekiranya menghindari kegiatan siswa siswi yang anarkis, narkoba, seperti tawuran Khususnya para pelajar di Sukabumi. "Tidak seperti halnya yang dilakukan oleh Siswa-siswi Perguruan Yasti, Cisaat, Kabupaten Sukabumi.” ungkap Didin Jamaludin.
 
Selanjutnya didin, “Semua pihak sangat antusias dengan kegiatan ini dan luar biasa, langkah pertama untuk menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan ialah mempersatukan para guru dan kemudian penuh harapan anak-anak didik pun untuk dapat bersatu, dan “Apabila ada para gurunya yang kurang harmonispun terhadap guru satu sama lainnya, jangan harap siswanya bisa dipersatukan” papar Didin.  (SS)
 
STAND PAMERAN EXPOSE SEKOLAH MODEL DARI SELURUH SEKOLAH YANG MENGIKUTI KREATIFITAS PESERTA LOMBA DI GOR YAYASAN PERGURUAN YASTI

Selasa, 21 November 2017

Gubenur Jabar, BUPATI, DPRD Raih Penghargaan Kepala Daerah Peduli PENYIARAN di KPID Jabar Award 2017

 
 
Saber Sukabumi,. BANDUNG

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan memperoleh penghargaan sebagai Kepala Daerah Peduli  Penyiaran di Jawa Barat dalam Malam Penganugerahan KPID Jabar Award 2017. Kepala daerah yang mendapatkan penghargaan serupa yaitu BUPATI Kuningan Acep Purnama dan kepada DPRD Provinsi Jabar, di Grand Asrilia Hotel, Jalan Pelajar Pejuang 45 No.123, Kota Bandung, Jumat (17/11).

Penghargaan diberikan langsung oleh Ketua KPID Jawa Barat, Dedeh Fardiah dan diterima Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar. Selain Gubenur Jabar, Kepala daerah dan DPRD, penghargaan juga diberikan kepada Tokoh Radio dan Televisi yang telah berjasa dalam dunia penyiaran di Jawa Barat dalam bentuk "Lifetime Achiefment Award 2017" masing-masing kepada H. Kuswadijaya Jamhari atau Mang Jaya sebagai Tokoh Radio Jawa Barat dan Hj. Popong Otje Djunjunan atau Ceu Popong sebagai Tokoh Televisi Jawa Barat.

Begitupun sebaliknya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan apresiasi kepada Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat yang telah konsisten menyelenggarakan KPID Jabar Award yang tahun ini memasuki ke-10 kali  penyelenggaraan. "KPID Jabar Award yang sudah 10 kali diselenggarakan untuk memberikan penghargaan kepada insan Penyiaran Jabar," ucap Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar dalam Malam Penganugerahan KPID Jabar Award 2017 tersebut di Kota Bandung.

Wagub mengucapkan selamat kepada insan Penyiaran baik radio maupun televisi yang telah meraih penghargaan dalam ajang KPID Jabar Award ke-10 semoga raihan ini menjadikan untuk terus meningkatkan mutu siaran dari lembaga penyiaran semakin baik. "Kita harapkan dengan adanya penganugrahan atau awarding untuk insan penyiaran di Jabar, maka mutu siaran dari lembaga penyiaran semakin baik dan mencerdaskan bangsa," katanya.

Wagub mengharapkan, berbagai informasi, hiburan, pendidikan yang menghiasi layar kaca maupun siaran-siaran radio di Jawa Barat dapat menginspirasi masyarakat di Jabar untuk lebih maju lagi kedepannya. "Saya apresiasi kepada seluruh insan penyiaran Jabar yang telah terlibat dari KPID Jabar Award ini," pungkasnya. (**)



Minggu, 19 November 2017

Tawuran Pelajar kembali Terjadi di Sukabumi & Kemanakah SATGAS Pencegahan Kekerasan anak Sekolah yang Sempat DEKLARASI selama ini.


Saber Sukabumi,.

Tauran para Pelajar kembali terjadi di Kabupaten Sukabumi, tepatnya sekitar Jalan Raya Sukabumi-Bogor, Desa Cibolangkaler, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi Jawa barat, Jumat (17/11) kemarin, yang telah mengakibatkan satu orang pelajaran kehilangan Nyawanya yang bernama Rayhan Jamal (17), Siswa kelas III SMK Lodaya Sukabumi.

Kapolsek Cisaat Kompol Budi Setiana menjelaskan,"Informasi yang kita peroleh dari saksi-saksi dilapangan, ada dua rombongan pelajar yang berbeda sekolah tengah melintas di kawasan tersebut, Rupanya yang kubu dari arah seberang Rombongan korban kalah jumlah . dan sempat saling ejek, yang pada akhirnya terjadi bentrok seketika, korban pun terjatuh lalu dikeroyok SMK yang menjadi lawannya, Berbagai senjata tajam menghujani tubuh korban. "Setelah itu para pelaku melarikan diri dan membiarkan tubuh korban tergeletak di pinggir jalan, dan Korban mengalami luka yang cukup parah terkena bacokan senjata tajam di bagian paha menurut medis "Ada luka mematikan di tubuh korban, karena posisi lukanya di sekitar paha yang memutuskan urat nadi menuju jantung," terang Budi.

Lanjut Kapolsek menerangkan, "Pada saat itu Tindakan pertolongan darurat korban sudah dilakukan petugas medis di RS Betha Medika cisaat, Lantaran luka yang sangat parah, korban dirujuk ke RSUD R Syamsudin Sukabumi, dan Rayhan menghembuskan napas terakhirnya di RSUD R Syamsudin pada Sabtu dini hari tadi. Polisi sudah olah tempat kejadian perkara (TKP). Sejumlah barang bukti dan saksi-saksi masih menjalani pemeriksaan. "jelas Budi.

Pelaksanaan autopsi korban dilakukan kemarin, Sabtu (18/11/2017) di RSUD R Syamsudin SH (Bunut) Sukabumi - Jawa barat. Dari hasil pemeriksaan Dokter Forensik, hasil autopsi menjelaskan, bahwa korban mengalami Luka sobek di paha / selangkangan sebelah kanan bagian dalam 2 luka, luka pada paha kiri bagian luar, luka pada tangan kiri, dan luka punggung kiri 1 sayatan. Maka dari itu Dokter menyimpulan, dugaan sementara korban kehabisan darah akibat luka sobek di paha / selangkangan sebelah kanan bagian dalam yang mengenai urat nadi.

Selanjutnya oleh pihak keluarga korban Jenazah Rayhan dibawa ke rumah duka dan untuk di kebumikan, Kampung Cibolang, Gg. Swadaya baru. RT 29 RW 07, Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi. "Kami berharap para pelakunya segera tertangkap dan perkaranya bisa diusut sesuai hukum berlaku, Kami sudah menerima takdir kepergian Rayhan," kata Hendri Ristiandi (42), ayah korban. (*)

Sabtu, 18 November 2017

WEW, Diduga Bancakan di Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Hentikan ULP Penayangan Lelang DAK 2017.

 
Saber Sukabumi
 
Cex'qi DOT ??? LPSE Kabupaten Sukabumi lewat dinas layanan pengadaan (ULP) dengan kode lelang 1885609 Pengadaan Buku Pengayaan DAK 2017 tertanggal 12 september 2017 dengan nilai lagu paket Rp. 8.750.000.000,- (Delapan Miliar Tujuh Ratus Lima Puluh Juta Rupiah) dihentikan oleh dinas pendidikan kabupaten Sukabumi.

Saat dikonfirmasi awak media lewat sambungan telepon, "Prasetyo Kadis ULP membenarkan kalau Penayangan Lelang DAK 2017 pengadaan buku pengayaan oleh Dinas Pendidikan, menurut dinas alasan normatif berdasarkan rekomendasi dari Tim Pengawalan, Pengamanan Pemerintahan dan Pembangunan Pusat (TP4P).
 
Menurutnya lelang tersebut menampilkan Judul yang seharusnya tidak boleh menampilkan judul, tutur, Prasetyo yang pertama mengusulkan judul dari KAK Dinas pendidikan kabupaten Sukabumi, lucunya setelah dikonfirmasi pihak ULP, KAK Dinas pendidikan sudah ada rekomendasi dari TP4D namun secara lisan.
 
ULP sendiri memberi deadline 18 hari terhitung pemberhentian tayang tersebut,  dan untuk melakukan lelang ulang, jadi jelas ada pihak-pihak yang berkepentingan mengintervensi Dinas ULP, terkesan Dinas ULP diperlakukan seperti boneka india. ***
 
(IGnews.com)

Jumat, 17 November 2017

Semoga anda & Warga bukan Korban dikibuli Selanjutnya !!! Sungguh malang Nasib janda Tua mau Nagih janji Bupati Sukabumi.

*Penderita Kaki Gajah Apakah Korban Di Kibuli*
Saber Sukabumi,.

Sungguh malang sekali nasib Bagi Ibu Tita (62), seorang janda, warga Kampung Cipeundeuy RT 004 RW 003 Desa Cibolang, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, janji adalah janji. Siapa pun yang berjanji harus ditepati, apalagi orang yang berjanji adalah Marwan Hamami yang saat ini memegang jabatan Bupati Sukabumi. Karena sangat terharu, Tita berurai air mata ketika menceritakan janji yang pernah diterimanya dari Marwan.
  
"Kami sekeluarga menjadi tim sukses dari pasangan Pak Marwan dan Pak Adjo. Sewaktu masa kampanye, Pak Marwan berjanji akan mengobati menantu saya yang mengidap penyakit kaki gajah sampai sembuh. Namun janji itu belum dipenuhi," kata Tita kepada Rekan senior kami yang sempat satu media INFO POLISI. Kamis (16/11/2017).
           
Janji tersebut, lanjut dia, disanggupi Marwan akan dipenuhi setelah dirinya bersama Adjo Sardjono dilantik sebagai Bupati-Wakil Bupati Sukabumi periode 2015-2020. Setelah hampir dua tahun pasca pelantikan, Marwan seperti lupa, janji yang pernah diucapkannya kepada keluarga Tita seperti tenggelam ditelan lautan luas Teluk Palabuhanratu.
 
Dalam janjinya, Marwan menyatakan akan mengurus semua administrasi dan biaya pengobatan mantu Tita itu, termasuk menyelesaikan pembuatan kartu BPJS. Bahkan Marwan menjanjikan pengobatan di Bandung. Karena itu satu minggu sebelum pelantikan Marwan-Adjo, Tita menyerahkan KTP, KK, dan dokumen lainnya kepada salah satu tim sukses untuk pengurusan pengobatan. "Sekarang Pak Marwan tidak mungkin lagi dapat memenuhi janji beliau karena menantu saya telah meninggal dunia. Menantu saya sudah berada di alam baka dan tidak butuh pengobatan," ungkap Tita.
 

Menantunya yang bernama Nur Aisah menderita penyakit kaki gajah selama tiga tahun. Keluarga sudah berupaya untuk mengobati Nur Aisah, termasuk menjalani perawatan dan pengobatan selama enam bulan di RS Bunut. Untuk sampai sembuh, Aisah membutuhkan biaya pengobatan sebesar Rp170 juta. Keluarga Tita tidak sanggup harus menyediakan uang sebesar itu. Penghasilan anaknya, Herman yang tidak lain suami Aisah tidak dapat diandalkan dari pekerjaannya sebagai tukang ojek.
           
"Jadi, betapa bahagia kami mendengar kesanggupan Pak Marwan akan membantu pengobatan menantu saya. Namun, sekarang harapan untuk dapat menyembuhkan menantu saya itu hilang. Saya hanya memohon kepada Pak Bupati untuk mewujudkan janjinya dalam bentuk lain," ungkap dia.
           
Nur Aisah kini telah tiada. Begitu juga suaminya Herman yang tidak lain anaknya Tita telah menghadap Ilahi lebih dahulu. Tita hidup sebagai single parrent karena suaminya pun telah meninggal dunia. Dia harus menghidupi tiga orang cucunya dari pasangan Herman-Aisah yang terdiri dari satu anak usia SMA, satu anak usia SMP, dan satu lagi masih balita.
           
Hebatnya, Tita tetap tegar menjalani kehidupan. Dia tidak pernah menyesali takdir dan kondisi keluarga yang dialaminya. Namun memang secara finansial, keluarganya termasuk tidak mampu.
           
Sebagai janda, Tita merasa terlalu berat harus menanggung beban ekonomi untuk menghidupi ketiga cucunya. Dia harus bekerja keras dan membanting tulang untuk membiayai sekolah kedua cucunya dan membelikan susu krim untuk cucunya yang masih balita. Belum lagi biaya sehari-hari dan bulanan seperti untuk belanja makanan, membayar listrik, dan membeli gas.
           
"Beban saya makin hari semakin berat. Karena saya juga harus membayar utang ke para tetangga," kata Tita. 
           
Utang yang melilit keluarganya bukan karena dia hidup boros atau gemar belanja berfoya-foya. Uang pinjaman dari para tetangga digunakan untuk biaya pengobatan dan ongkos selama enam bulan pengobatan di RS Bunut, pengurusan jenazah Aisah, dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.      
           
"Janji Pak Bupati kalau dipenuhi tidak lagi untuk pengobatan menantu saya, tapi untuk membayar utang-utang dan biaya hidup keluarga kami sehari-hari," tutur dia.
           
Pernah memang, kata dia, ketika menantunya masih hidup, dia mendapatkan bantuan dari sesama rekan tim sukses dan Wakil Bupati Sukabumi Adjo Sardjono yang saat ini menjabat. Namun uang yang diterimanya sekedar cukup untuk biaya makan keluarga dan menantunya yang sedang sakit parah. Tita tidak akan pernah melupakan bantuan dari Adjo. 
           
Demi meringankan beban hatinya, dia bermaksud akan melayangkan surat langsung kepada Bupati Sukabumi Marwan Hamami untuk mengingatkan janjinya.  “Sekarang saya mau nagih janji dengan mengantarkan surat ini kepada Bupati Sukabumi secara langsung," pungkasnya. 
           
Bupati Marwan juga harus mencatat dalam buku agendanya, kondisi rumah Tita hampir rubuh, belum
ada bantuan untuk rehabilitasi dari pemerintah. “Jangankan dari bupati maupun kecamatan, oleh desapun tidak diperhatikan,” tutur Tita, dengan mata berlinang-linang di Hadapan rekan kami dari SUKABUMInews.  (SS)

Kamis, 16 November 2017

BKKBN Merubah Paradigma Untuk Lebih Baik & KB Bukan Hanya Dua Anak Cukup Saja.

 
Saber Sukabumi,.
 
Agenda kerja BKKBN kali ini dilaksanakan di GOR Bulutangkis Ciracap, Kampung Basaga-Loji, Desa / Kecamatan Ciracap Kabupaten Sukabumi, Senin (13/11/2017).
Bekerjasama dengan anggota DPR-RI Komisi IX fraksi Golkar Hj.Dewi Asmara.SH.MH guna mensosialisasikan betapa pentingnya keluarga terencana yang cakupannya luas tidak hanya paradigma Masyarakat saat ini jika KB itu hanya sebatas Dua Anak Cukup.
Menurut Dewi Asmara, cakupan Keluarga Berencana tidak hanya sebatas itu, "kita harus merubah mindset Masyarakat, tentang paradigma yang melekat selama ini," ungkap Dewi Asmara kepada awak media di sela acara yang cukup mendapat antusias dari warga Ciracap.

Lebih lanjut dikatakan, "Pemerintah dengan segala Programnya akan terus mensuport, tinggal Masyarakat mau tidak ikut menjalankan program tersebut, toh itu buat Masyarakat juga," jelasnya.
Beberapa hal yang cukup menarik, ketika anggota DPR-RI ini melakukan interaksi langsung bersama warga Cikakak, dengan memberikan beberapa kuis seputar Keluarga Berencana.
Warga sangat antusias menjawab seluruh kuis yang dilontarkan tim BKKBN dan Dewi Asmara.
"Alhamdulillah saya dapat Kulkas, terima kasih BKKBN," ucap warga yang menjawab pertanyaan di sesi door price dalam acara KIE Kreatif 2017 di Kecamatan Ciracap.

Dari 10 Kecamatan Kota dan Kabupaten Sukabumi menjadi sasaran kampanye dalam rangka Sosialisasi KIE Kreatif 2017.
Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) Kreatif 2017 yang digagas oleh Pemerintah ini merupakan sebuah program Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam upaya mewujudkan keluarga masa depan yang tangguh untuk mencetak keluarga Indonesia yang bermartabat.
Hal ini seiring dengan visi misi Kabupaten Sukabumi dengan mewujudkan percepatan pembangunan sesuai nawacita demi mewujudkan Sukabumi lebih baik. (***)
 
 
 

Pak Jokowi, Mohon Doa Dukungan nya !! Bupati Sukabumi Kedatangan Helen Keller Internasional, UNICEF & KEMENDIKBUD Profinsi JABAR.

Saber Sukabumi,.

Rabu (15/11). Tim Monitoring Penyelenggara Pendidikan Inklusif Melakukan Kunjungan Kerja ke Pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi, untuk bisa memperhatikan lagi bagi para penyandang Disabilitas, dapat diterima Kedudukan pendidikan keberadaanya diakui  untuk lebih baik lagi. Kunjungan ini yang dilakukan oleh Helen Keller Internasional (HKI), UNICEF bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) Provinsi Jawa Barat.

Secara langsung di Terima oleh Bupati Sukabumi H. Marwan Hamami, yang  Bertempat di Pendopo Palabuhanratu. Dalam sambutannya Bupati menyampaikan bahwa melalui program Pendidikan inklusif anak penyandang Disabilitas bisa belajar tanpa termarginalkan oleh lingkungan, oleh karenanya program pendidikan inklusif harus menjadi perhatian dan didukung oleh kita bersama. Acara penerimaan ini, turut hadir Assda, Kepala dinas kesehatan, Sekertaris dinas pendidikan dan Perangkat daerah lainnya yang terkait.
 
Saat ini dengan dukungan dari UNICEF, HKI, KEMENDIKBUD, dan Kementerian Agama (KEMENAG) mengembangkan program Daerah yang diharapkan dapat menjadi acuan dalam menyelenggarakan Pendidikan Inklusif yang mengikuti hal-hal yang dipersyaratkan dalam Permendiknas No. 70 tahun 2009 dan Undang-undang Penyandang Disabilitas No. 8 Tahun 2016.

Dengan lahirnya UU Nomor 8 Tahun 2016, bahwa disitu sudah jelas  tentang Penyandang Disabilitas teersebut, maka  kedudukan penyandang disabilitas sebagai subjek (diakui keberadaannya) yaitu manusia yang bermartabat yang memiliki Hak yang sama dengan warga negara lainnya.

Maka kami selayaknya warga masyarakat biasa selalu mengkritisi niat baik, yang mana selalu di ungkapakan dari salahsatu LSM BARETA INDONESIA di Kabupaten Sukabumi, untuk menghimbau kepada pemerintah terkait, dapat memperhatikan dan peduli terhadap para penyandang Disabilitas yang Cacat menjadi putus harapan kedudukan pendidikan sekolah nya, yang mana keberadaannya mungkin sudah melibihi Target offer capasitas di Kabupaten Sukabumi, dan  sudah selayaknya mendapatkan pridikat Rekor MURI.

Semua itu tidak lepas dari Hasil kajian temuan pendataan yang dilakukan oleh salahsatu pergerakan LSM BARETA INDONESIA di Kabupaten Sukabumi yang peduli tentang hal Penyandang Disabilitas ini yang sudah sangat memprihatinkan dengan mencapai Jumlah angka 13.000 orang penyandang cacat di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang tersebar di 47 kecamatan di kabupaten Sukabumi.

Sekian banyak difable tersebut merupakan penyandang cacat berat dan penyandang cacat ringan. Terdiri dari cacat, mental, fisik, grahita, hidrosepalus, tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, tuna daksa, daksa tangan, kaki folio, tangan folio, lumpuh dan ODKB (Orang Dengan Kecacatan Berat). Rata-rata ditemukan di keluarga miskin, semua difable yang ditemukan tersebut rata-rata Usia layak Sekolah dan masyarakat yang tidak mampu. Penyebab mereka menderita disabilitas tersebut lebih di sebabkan oleh pengaruh gizi buruk. Oleh karena itu sekali lagi perlu di pahami bahwa Permendiknas No. 70 tahun 2009 dan Undang-undang Penyandang Disabilitas No. 8 Tahun 2016 sudah jelas. Karena mereka semua Warga Negara yang mempunyai Hak yang sama dan ingin berilmu pendidikan yang layak bagi Nusa bangsa ini.

Maka sejak tahun 2003 sampai dengan saat ini HKI bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia melalui KEMENDIKBUD mengembangkan sistem pendidikan di Indonesia. .Sementara itu berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Praktono selaku perwakilan dari Kementerian Pendidikan Provinsi Jawa Barat menyampaikan bahwa tujuan dari kunjungan ini untuk memperoleh informasi terkini yang akurat terkait penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Provinsi Jawa Barat khususnya Kabupaten Sukabumi serta melakukan inventarisasi tantangan dalam penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Provinsi Jawa Barat dan secara khusus di Kabupaten Sukabumi.
 
Bupati Sukabumi H. Marwan Hamami, menerangkan bahwa untuk Pendidikan Inklusif di Kabupaten Sukabumi sudah di programkan dan berjalan hingga saat ini. “Program Inklusif ini harus dijadikansuatu terobosan bagaimana anak-anak kita ini ketika belajar tidak termajinalkan oleh lingkungan” ujarnya
 
Lebih lanjut Bupati menyampaikan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) yang sudah ada harus bisa memberikan jawaban bahwa Sukabumi menjadi lebih baik tanpa membedak-bedakan anak-anak penyandang disabilitas. “Mengenai penanganan anak yang membutuhkan Pendidikan Inklusif, tenaga Pendidik dituntut bisa dan mau menerima keberadaan mereka” tandasnya. (BARRED)